Langsung ke konten utama

Postingan

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 10

Sekarang, pria bertopeng itu berada di area peperangan. Dia membawa busur dan panah miliknya, mengambil di pohon yang puncaknya sudah terbakar akibat tersambar petir. Terompet ditiupkan, suaranya menggema. Peperangan dimulai dan dengan biadabnya para prajurit negara api menyerang lebih dahulu. Suara pedang beradu mericuhkan suasana. Pria bertopeng juga menarik pedang dari sabuknya dan mulai bertarung. Doúlos sedang berada di puncak benteng merasa khawatir karena melihat prajuritnya berguguran di tangan pria bertopeng itu. Dia membuka sebuah buku di tangannya. Sepertinya mengandung mantra yang sering digunakan mendiang Kalós. “Kaíne to!” Sebuah panah mengenai mahkota Kalós dan jatuh dari atas benteng. Fotía ternyata berada di sana dan berhasil menangkapnya kemudian berlari. Doúlos melepas perisai wajahnya untuk ke bawah, “Rupanya kamu!” Dia mencoba untuk memerintahkan pasukannya menyerang Fotía yang mencoba berlari....

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 9

“Kalahkan dia!” ucap Fotía. Pria itu hanya tersenyum. *** “Sudah kubilang, itu dia!” Seorang warga itu terus menunjuk. Mereka sedang beristirahat dalam peperangan dan akan berlanjut setelah terompet ditiup pasukan negara api. “Tuan, tolonglah kami!” Dia menghadang kuda putih itu. “Temukan dulu aku dengan raja di istana air.” “Beliau sudah meninggal tuan.” “Nampaknya aku terlalu lama perg–Bagaimana dengan ratu? Temukan aku dengannya.” Pria itu dituntun menuju istana kerajaan air. Warga yang bersamanya berniat untuk kembali ke area perang. “Siapa dirimu?” tanya Evdaimonía. Ergodótis masih ada di sana. “Anda tidak perlu tahu saya. Saya ingin bertemu dengan ahli tafsir dan anda tahu dimana beliau.” Evdaimonía dan pria itu turun ke bawah tanah istana. Ergodótis mengikuti mereka. “Kamu! Terima kasih telah datang, tuan. Bantulah kami.” “Siap...

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 8

Pria itu bersiul memanggil kudanya. Seekor kuda putih berlari mengejar pria itu. Mereka terus berlari sampai sang pria menaiki kudanya. “Aku merasa pernah melihat kuda itu, tapi milik siapa?” tanya seorang warga dari negara air. *** Fotiá sedang di kamar, menyisir rambutnya. Tiba-tiba seseorang pria mendobrak pintunya dan masuk. Fotia akan berteriak namun mulutnya ditutup. “Tenanglah, kamu mengenalku.” Dia adalah pria yang berlari tadi. Entah bagaimana caranya bisa mencapai istana api. Dia membersihkan dedaunan di wajahnya dan Fotiá terlihat kaget. “Kenapa kamu ada disini?” “Aku ingin berlindung sebentar. Dimana ayahmu?” “Ayahku meninggal, dibunuh Doulós. Sekarang dia mengangkat dirinya sendiri sebagai raja.” Fotiá terlihat sangat marah. “Aku turut berduka cita. Dimana dia?” “Benteng,” jawab Fotiá singkat. “Apa yang dia lakukan disana?” “Perang dengan ...

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 7

Sayembara baru diadakan oleh Evdaimonía. Jika anaknya mendapat gelar wanted, maka pria bertopeng ironisnya menjadi most wanted dengan hadiah yang lebih besar. Kabar tersebut terdengar oleh sang ahli tafsir. “Mana mungkin dia bisa dicari, apalagi dengan cara itu.” Dia hanya menggantungkan kunci yang dilempar sang ratu di dinding. Evdaimonía fokus membaca kitab Agios. Mencari tulisan yang bisa membantu mereka. “Seandainya Filikòs dan Gynaíka masih hidup, mereka tidak akan mengadakan perang.” “Kurasa ini salahku yang ingin memberi pelajaran kepada Doúlos namun malah mencelakakan rakyatku.” *** Benteng yang dibangun oleh panglima negara api mulai berdiri. Perang belum dimulai secara resmi, namun mereka sudah melempari semua toko di pasar dengan batu yang besar sehingga hancur. Tentunya hal itu melanggar adab peperangan yang juga tertulis dalam kitab Agios. Zeus sang dewa seolah marah. Hari mulai mendung. Nampaknya badai ...

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 6

Ergodótis berlari menuju kudanya. “Raja kita akan mengadakan perang dengan negara air! Persiapkan diri kalian!” ucapnya sesaat setelah menaiki kudanya. Dia berkendara kemudian. Berita itu kemudian disebarkan, pasar di perbatasan mulai ricuh. Para pedagang dengan lekas membersihkan toko mereka karena sangat yakin perang akan berlangsung disini. Aneh karena bukannya kembali, Ergodótis malah meneruskan perjalanannya. Dari kejauhan terlihat dia mengarah ke istana negara air. Ergodótis sempat ditahan oleh para penjaga namun Evdaimonía yang keluar dari istana memerintahkan agar dilepas sehingga mereka dapat berbicara. “Bagaimana tanggapan rajamu?” tanya Evdaimonía. “Dia terlihat sangat tidak menyukainya sehingga ingin mengadakan perang antar kerajaan.” “Perang? Tidak bisa, kami lebih baik meminta maaf dan mundur daripada–” “Warga kita di perbatasan sudah berjatuhan, paduka ratu!” ucap seorang ...

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 5

Ergodótis kembali ke istana dengan membawa setangkai anggur yang diberikan oleh Evdaimonía. “Hanya setangkai?” tanya Doùlos. “Bersyukurlah karena aku tidak dibunuh sang ratu.” Ergodótis pergi untuk membuatkan minuman dari anggur itu. Doùlos hanya menerima yang sudah jadi, padahal dia bisa saja memakan langsung. Minuman itu jadi namun warnanya lebih pudar dari biasanya. “Bukankah anggur ini sudah matang?” Ergodótis masih bersangka baik. Sebelum menyerahkan kepada sang raja, dia membuka surat yang disembunyikannya sebelumnya. Setelah membaca, dia memahami maksud Evdaimonía. Di satu sisi, dia senang dengan kejutan yang diberikan oleh ratu air ini. Di sisi lainnya, dia harus menanggung risiko dimana yang terbesar adalah dibunuh di tempat. Gelas kristal baru, berisikan anggur diserahkan kepada Doùlos. Dia minum dan langsung menyemburkannya tepat ke wajah Ergodótis. “Apaan ini? Asam!...

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 4

“Tunggu, Doùlos?” tanya Evdaimonía yang terlihat mulai marah. “Apa yang sudah dia lakukan?” tanya Ergodótis balik. Evdaimonía menjelaskan semuanya. “Bocah bajingan itu sudah membunuh suamiku dan mengancamku agar menjadi ratu padahal semuanya mengetahui peraturan yang tertulis di kitab Agios melarangku. Beruntungnya masyarakatku mendukung.” “Semenjak dia menjadi raja di negara api, negara lain bersikeras untuk tidak mau berhubungan lagi. Lihatlah siapa yang sekarang membantu kalian? Kami bukan?!" Suara Evdaimonía bernada kencang. Dia benar-benar marah. Dia mencoba menenangkan diri karena teringat dengan isi kitab Agios. Kitab Agios secara umum berisikan legenda dan peraturan. Negara api dan air menganut kepercayaan dimana harus mematuhi segala peraturan dalam kitab tersebut sehingga sesuatu yang buruk tidak terjadi akibat banyaknya pelanggaran. “Bagaimana dengan Gynaíka?” Maksud Evdaimon...

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 3

“Pelayan!” teriak Doùlos di atas singgasana. Suaranya menggema di seluruh istana. Seorang pelayan berlari menujunya. Namanya Ergodótis, mirisnya dia adalah majikan Doùlos saat dia diperbudak. Sekarang keadaan terbalik. “Ada apa paduka raja?” tanya pelayan tersebut. “Mana lagi anggurnya?” tanya Doùlos balik sambil memegang sebuah cangkir dari kristal. Dia terlihat marah. “Sudah habis.” “Cari lagi!” Ergodótis kemudian pergi keluar istana dan menaiki kuda, berkendara menuju perbatasan dengan koin seadanya yang diberi sang raja. Setibanya disana, dia terkejut karena toko Gennaíos hancur, dimana dia adalah penjual anggur paling bagus yang semua orang tahu. “Apa yang terjadi dengan toko ini? Kenapa hancur?” tanya Ergodótis kebingungan. “Dia yang menjual anggur disini sudah lama pergi. Sesuai peraturan raja api sekarang, siapapun yang sudah lama tidak berdagang maka to...

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 2

Sejarah telah membuktikan bahwa Filikòs sang raja api dan Kalòs sang raja air tidak pernah bermusuhan. Para pedagang yang berjualan di perbatasan menyapa satu sama lain. Negara api menghasilkan batu bara dan arang. Kereta tambang penuh berjalan di atas rel yang membentang. Pedang dan zirah besi, perisai dan perhiasan, mereka yang membuatkan. Tidak heran negara ini menjadi sangat kuat. Negara air adalah negara yang subur. Wilayahnya yang luas dipenuhi oleh pertanian dan perkebunan. Terlihat juga beberapa peternakan, yang bahkan dikelola bersama masyarakat negara api. Di pasar, tidak jarang mereka membahas Fotiá, putri api. Mereka hanya tahu namanya, tanpa melihat. Filikòs menjadi ayah yang tegas dengan tidak memperbolehkannya keluar istana, sampai saat yang ditentukan. Mereka membandingkan dengan Gennaìos, pangeran air yang sekarang menghilang entah kemana. Dirinya yang tidak menampakkan diri di antara mereka menjadi asumsi kuat bahwa dia tiada sementar...

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 1

Negara Api dan Air. Dua kerajaan yang berdekatan ini dulunya damai, namun tidak sekarang. Semua dimulai sejak bangkitnya Doùlos, seorang budak yang dulunya bekerja di kedua kerajaan membunuh Filikòs sang raja api dan Kalòs sang raja air. Dia mengangkat dirinya sendiri sebagai raja api dan membiarkan Evdaimonía menjadi ratu di negara air agar tidak ada yang curiga. Perbuatannya nampak berjalan mulus, karena banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan raja mereka terdahulu. Di satu sisi, ratu api terdahulu sudah lama wafat dan Fotiá sang putri berdasarkan peraturan belum bisa menggantikan orang tuanya sebagai pemimpin. Namun di sisi lainnya, Gennaíos sang pangeran air menghilang entah kemana. Evdaimonía sebagai ibunya sekaligus ratu di kerajaan bahkan mengadakan sayembara untuk menemukannya. Setelah kebangkitan Doùlos yang sekarang memerintah di negara api, negara itu berubah menjadi kerajaan otoriter y...

Pria Bertopeng dari Surga - Pengantar

@mnafisalmukhdi1 disini  :) Awal cerita, 26 Mei 2020 aku menjelajah Facebook sebagaimana biasanya dan menemukan postingan ini:  https://www.facebook.com/groups/184435988650617/permalink/964928043934737/?app=fbl Tiba-tiba, aku teringat dengan cerita "Pria Bertopeng dari Surga" yang premisnya dibuat oleh  Aditya  Dimas Fransdika (saat itu aku memanggilnya Dimas). Cerita ini dipublikasikan pada 30 Juni 2016 melalui blog miliknya dalam naungan  WapBlog Indonesia tepatnya  https://preview.tinyurl.com/yd5qbxw9 Cerita ini sebenarnya fiksi sejarah pertama yang kutulis selama aku berada di dunia kepenulisan, terutama blog. Tentu saja sangat berkesan, dan biasanya cerita berkesan seperti inilah yang dibuat ulang. Dan ketika aku membaca kembali tulisanku di masa lalu, rasa jijik mulai muncul. Saking jeleknya tulisanku di masa lalu, sampai tidak sabar untuk melakukan revisi besar-besaran lagi  Mohon dukungannya dan sampai jumpa pada bagian pertama!

Terima Kasih, Sahabat!

Halo sahabat! Nafis disini. Terima kasih telah mengikuti keempat belas bagian dari Sahabat edisi terbaru ini. Melalui Facebook , pada tanggal 19 Juli 2020. Saya memutuskan untuk melakukan revisi terhadap Sahabat yang terdahulu di mana saya menulisnya pada 9 Oktober 2016 - 20 Juni 2017. Berikut rinciannya, semua dalam WITA: 9 Oktober 2016 12:00 - Prolog 24 Desember 2016 17:00 - Bagian 1 25 Desember 2016 12:00 - Bagian 2 31 Desember 2016 17:00 - Bagian 3 4 Januari 2017 17:00 - Bagian 4 4 Januari 2017 20:00 - Bagian 5 5 Februari 2017 15:00 - Bagian 6 21 Maret 2017 14:23 - Bagian 7 23 Maret 2017 14:33 - Bagian 8 28 Maret 2017 15:41 - Bagian 9 20 April 2017 18:30 - Bagian 10 15 Mei 2017 14:21 - Bagian 11 18 Juni 2017 14:27 - Bagian 12 (Spesial) 20 Juni 2017 16:16 - Bagian Bonus Mengapa jadwalnya begitu tidak teratur dan memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikannya? Saya mencoba beradaptasi dalam mempublikasikan cerita ini karena Semakin juga masih berj...

Sahabat - Bagian 14

Keesokan harinya, Hafidh melaporkan hal tersebut kepada kepala sekolah. Beliau sempat melarang dengan alasan bahwa ujian akhir akan dilaksanakan pekan depan. Ketika mengetahui bahwa rumah Hafidh dekat dengan sekolah, beliau minta dibawa untuk berbicara mengenai hal ini dengan orang tuanya. Radit yang bersama Hafidh saat dia melapor meminta untuk ikut dan mereka memperbolehkan. *** "Apa alasan rumah ini dihancurkan, ibunya Hafidh?" tanya kepala sekolah. "Biaya sewa rumah terlalu mahal sedangkan uang kami harus dibagikan juga kepada operasi lutut Hafidh yang kambuh lagi," jawab ibu Hafidh. "Aku yakin sebentar lagi kami akan diusir." "Kami sebenarnya ingin membantu, namun keadaan ekonomi sekolah sedang terpuruk. Tapi Hafidh harus tetap sekolah karena ujian akhir sudah dekat." Demikianlah yang disampaikan kepala sekolah kepada ibu Hafidh. Radit kemudian menawarkan rumahnya untuk dipinjamkan sampai mereka benar-benar ingin pindah dan berkata hanya itu...

Sahabat - Bagian 13

Kepala sekolah kemudian menjawab bahwa Hafidh disleding kakinya. "Oleh siapa?" tanya Radit. "Siswa disana cukup banyak, aku tidak dapat mengingat semuanya," jawab kepala sekolah. Sementara itu pak Dane kembali ke sekolah dengan mobilnya. "Sebenarnya apa tujuanmu, Dah?" tanya kepala sekolah. "Tujuanku adalah memusnahkannya sekaligus kau," ucap Bu Idah sambil menodong pistol. Kepala sekolah merogoh sesuatu di saku beliau. "Ini kan, yang kau cari dulu?" tanya kepala sekolah sambil menunjukkan kalung emas dengan huruf I. "Kalungku!" ucap Bu Idah. "Dimana kau menemukannya, bukankah kau menjualnya?" tanya bu Idah. "Aku hanya menyimpannya," jawab sang suami. Bu Idah tetap marah dan menarik paksa kalung itu. Dia kemudian masuk mobil kemudian pergi. Bahkan dia meninggalkan Izul. *** Hafidh dibawa kembali ke UKS dan mendapat hadiah sebuah tongkat yang membantunya berjalan. Izul merasa bersalah atas hal tersebut. ...

Sahabat - Bagian 12

Izul pun pergi memeluk ibunya, dia seperti berbicara kepada ibunya sambil menujuk Hafidh. Radit pun menyadari sesuatu, kemudian dia berbisik kepada Hafidh. "Nyawamu sepertinya terancam," bisik Radit. "Apa maksudmu?" balas Hafidh "Mereka sepertinya merencanakan sesuatu yang buruk kepadamu" bisik Radit lagi sambil memandang Izul. Ketika mereka ingin menjauh, mereka tidak sengaja menabrak kepala sekolah. "Mengapa dia ada disini?" tanya beliau. "Apa maksud bapak?" tanya Radit. "Kami sudah lama pisah rumah dan Izul ikut bapak. Tapi beberapa bulan ini, bapak merasa ada yang aneh, ternyata Izul lebih memihak ibunya yang jahat entah kenapa." Kepala sekolah mendekati Izul dan Idah. "Apa yang kau mau, Dah?" tanya beliau. "Aku akan membalas apa yang sudah dirasakan anakmu!" "Apa maksudmu?" "Dia," Izul menunjuk Hafidh, "sudah merebut temanku sejak SD, Radit." Hafidh yang kakinya agak pinca...

Sahabat - Bagian 11

Setelah menunggu beberapa saat, Hafidh sadar dan dia bertanya "Dimana aku sekarang?" "UKS," jawab bu Anna singkat. "Siapa yang membawaku kesini?" "Temanmu, Ibu tidak tau namanya tapi itu orangnya," tunjuk bu Anna. Radit hanya tersenyum ketika Hafidh memandangnya. *** Pak Dane dan Fajri sudah tiba di Kantor Polisi. Mereka pun memasukinya. "Ada yang bisa kami bantu?" kata orang yang bertugas disana Pak Dane kemudian menjawab, "Saya—" "Saya mau menyerahkan diri atas percobaan pembunuhan di SMP Pelita," potong Fajri. Pak Dane pun sangat kaget sambil menengok Fajri dan bertanya "Fajri?" Fajri hanya tersenyum "Ada bukti?" Fajri pun mengeluarkan pistolnya, dan meletakkannya di atas meja pelayanan. Dia pun berlutut dan mengangkat kedua tangannya kemudian polisi itu membawanya ke sel tahanan disana. *** "Ayo, kita kembali ke kelas!" jawab Hafidh. "Ayo!" jawab Radit. Hafidh berjalan...

Sahabat - Bagian 10

"Mengapa kau melakukan tembakan tadi?" tanya pak Dane di mobilnya. "Sudah kubilang, diperintah oleh seseorang," jawab Fajri. "Kukira disana masih ada kepala sekolah.” *** "Kamu tidak apa-apa ‘kan?" tanya Hafidh kepada Izul. Izul hanya diam. Pukulan keras melayang dari tangan Izul dan membuat Hafidh tidak sadarkan diri sehingga Radit menyambut tubuhnya. "Orang baik-baik membuatmu berhenti menangis, malah kau hajar!" Izul kemudian lari keluar kelas. "Ada apa dengannya?" kata Radit sedikit kesal. *** Pak Dane cukup terkejut atas jawaban Fajri. "Tunggu dulu, berarti kau—" "Ya, aku menargetkan kepala sekolah," potong Fajri. "Dan aku disuruh oleh istrinya." *** "Sial!" ucap bu Idah membanting ponselnya. Bu Idah adalah istri kepala sekolah. Mereka sudah beberapa bulan berpisah rumah dan Izul ikut ayahnya. "Mengapa ini terjadi? Pasti dianya yang gak becus!" Radit berlari sa...

Sahabat - Bagian 9

"Ah sial! Target bergerak terlalu cepat!" ucap seseorang menelpon. "Ternyata kau—" kata Pak Dane sambil memegang pinggangnya. Pak Dane pergi keluar setelah menjelaskan kepada Radit. Hafidh dan Radit pun melihat lewat jendela. "Fajri!" "Apa yang kau lakukan disini?" tanya pak Dane. "Aku hanya melakukan tugasku," jawab Fajri. Fajri, adalah teman lama Pak Dane yang berkhianat setelah sekian lama pertemanan mereka itu. Sekarang, Fajri adalah salah satu orang yang agak dibenci Pak Dane. "Tugas apa?" tanya pak Dane lagi. "Itu rahasia," jawab Fajri. "Beri tahu atau tidak?!" "Kalau tidak—" Pak Dane mengeluarkan pistol dari sakunya. Dia memilikinya secara legal. Fajri berlutut, melempar pistolnya entah kemana, dan mengangkat tangannya. Ketika pak Dane mendekat, Fajri meninjunya. Pak Dane tidak terlihat kesakitan. "Bagaimana bisa?" tanya Fajri heran. "Kau ini sungguh pelupa." ...

Sahabat - Bagian 8

"Izul!" teriak pak Dane membangunkan Izul. Namun Izul tidak bangun-bangun juga. Radit pun sedikit tertawa. Tiba-tiba pak Dane melihat ke arah semua siswa, dia menutup mulutnya dengan telunjuknya, memerintahkan untuk diam. Kelas sembilan saat itu benar-benar sunyi. Kepala sekolah yang menunggu di luar memasuki kelas itu. Beliau mencoba membangunkan Izul. Dia seperti bangun namun matanya masih terpejam, menolak untuk dibangunkan. Dia membuka matanya dan kaget karena ada kepala sekolah di hadapannya. Beberapa murid menertawakan namun pak Dane hanya tersenyum. "Benar kan?" tanya pak Dane kepada kepala sekolah yang dijawab dengan anggukan. "Ada apa kau ini? Gurumu sedang menjelaskan, malah tidur kau ini!" Kepala sekolah memarahi Izul. "Penjelasannya terlalu panjang dan kurang jelas lagi, ditambah mataku ngantuk jadi tidur aja," sahut Izul dengan santainya. "Kalau penjelasannya kurang jelas, nanya dong! Jangan malah tidur! Ini yang membuat nilaimu...

Sahabat - Bagian 7

Dane adalah seorang bule dengan kewarganegaraan Indonesia yang menjadi guru Bahasa Inggris yang baru di SMP Pelita. Beliau bercerita bahwa beliau tidak dibayar sampai keadaan ekonomi sekolah membaik. Hari itu beliau melanjutkan pelajaran tenses yang tertunda hingga waktu istirahat tiba. Banyak siswa yang tadinya hanya tidur berlarian keluar dari kelas ketika mendengar bel istirahat berbunyi. Moral mereka benar-benar menurun karena pak Dane bahkan belum selesai menutup pelajaran. Beliau hanya tersenyum dan mengambil buku di mejanya kemudian keluar kelas. Hafidh dan Radit keluar dan berjalan di belakang pak Dane dengan santai. Pak Dane rupanya menyadari kehadiran mereka dan menyapa, "Hai! Siapa nama kalian?" Radit memperkenalkan dirinya dan Hafidh. Beliau hanya mengangguk kemudian mereka berpisah jalan karena Radit dan Hafidh akan menuju kantin sementara pak Dane menuju kantor. *** "Hei Dane, seharusnya jadi guru itu objektif!" ucap kepala sekolah saat Pak Dane memasu...