Langsung ke konten utama

Postingan

Sahabat - Bagian 11

Izul pun (ceritanya) memeluk ibunya, dia seperti berbicara kepada ibunya sambil menujuk Hafidh. Radit pun menyadari sesuatu, kemudian dia berbisik kepada Hafidh. "Nyawamu sepertinya terancam lagi" bisik Radit "Apa maksudmu?" balas Hafidh "Mereka sepertinya merencanakan sesuatu yang buruk kepadamu" bisik Radit lagi sambil memandang Izul Tiba-tiba, di belakang mereka sudah ada Kepala Sekolah "Mengapa dia ada disini" kata Kepala Sekolah "Apa maksud bapak?" tanya Radit "Kami sudah lama bercerai bahkan kami sampai pisah rumah. Sudah lama Izul ikut bapak, tapi beberapa bulan ini, bapak merasa ada yang aneh, ternyata Izul lebih memihak ibunya yang jahat entah kenapa" kata Kepala Sekolah "Sudah kubilang kan Fidh?" tanya Radit Hafidh hanya mengangguk Kepala Sekolah pun mendekati mereka "Apa yang kau mau, Dah?" kata Kepala Sekolah "Ya, aku hanya membalaskan anakmu" kata Bu Idah (Ibu Izul) "Apa maksudmu...

Sahabat - Bagian 10

Tiba-tiba, Hafidh sadarkan diri. Radit pun kaget sampai terloncat mundur dan terbentur pintu "Aduh" kata Radit "Dimana aku...." tanya Hafidh "Kau sedang di UKS, Fidh" kata Bu Anna "Siapa yang membawaku kesini?" tanya Hafidh lagi "Temanmu, Ibu tidak tau namanya" jawab Bu Anna Hafidh pun bangun, dan melihat Radit di pintu sambil mengelus-ngelus punggungnya "Kau ini, mengagetkanku saja" kata Radit sambil cemberut "Hehe. Maaf. Tapi, terimakasih" kata Hafidh sambil tersenyum Radit pun langsung tersenyum Clak Bunyi tetes darah yang terkena keramik lantai UKS Hafidh pun menyentuh pipi kirinya dengan tangan kiri, dia melihat telapak tangannya penuh darah "Tunggu sebentar" kata Bu Anna Bu Anna membuka kotak P3K dan mengambil plester dan kapas. Bu Anna pun menyapukan kapas itu ke pipi kiri Hafidh, dan meletakkan plester di luka itu. "Terimakasih" kata Hafidh "Sama-sama" kata Bu Anna sambil terseny...

Sahabat - Bagian 9

"Banyak kejadian yang tak pernah kita sangka ya, Dit" kata Hafidh "Yang pastinya sekolah ini agak angker ditambah segala penembakan yang ada" kata Radit . "Mengapa kau melakukan tembakan tadi" tanya Pak Dane di mobilnya "Aku disuruh oleh seseorang" kata Fajri "Kukira disana masih ada Kepala Sekolah" lanjut Fajri . "Tenanglah Zul, kau masih bisa memanggil beliau 'Yah', mungkin beliau hanya tidak menganggap kamu sebagai anak" kata Hafidh "Itu kan sama saja" bisik Radit "Diamlah" kata Hafidh sambil berkedip Izul pun berhenti memegang kepalanya. Dia sedikit senyum, dan Bukk! Pukulan keras melayang dari tangan Izul dan membuat Hafidh agak knock-out . Radit pun menyambut tubuh Hafidh yang (sepertinya) tidak sadarkan diri. Darah pun bercucuran dari pipinya. "Orang baik-baik membuatmu berhenti menangis, malah kau hajar" kata Radit Izul pun lari begitu saja "Ada apa dengannya?" kata Radit...

Sahabat - Bagian 8

Pak Dane membuka pintu lebar-lebar untuk jaga-jaga, kemudian dia melihat ke luar "Tidak ada apa-apa" kata Pak Dane "Wah, kau hebat Dit" kata Hafidh kepada Radit "Itu hanya kebetulan" kata Radit tersenyum simpul "Ya, ada apa Dit?" tanya Pak Dane "Saya belum paham pak, boleh saya bertanya" kata Radit "Ya, tentu" kata Pak Dane menyambutnya dengan senang hati . "Anak macam apa itu" kata Kepala Sekolah sambil berjalan cepat dengan geram "Ah sial!. Target bergerak terlalu cepat!" kata seseorang menelpon "Ternyata kau" kata Pak Dane sambil memegang pinggangnya Hafidh dan Radit pun melihat lewat jendela "Fajri....." kata Pak Dane "Apa yang kau lakukan disini" lanjut Pak Dane "Aku hanya melakukan tugasku" kata Fajri Fajri, adalah teman lama Pak Dane yang berkhianat setelah sekian lama pertemanan mereka itu. Sekarang, Fajri adalah salah satu orang yang agak dibenci Pak Dane. ...

Sahabat - Bagian 7

"Izul!" teriak Pak Dane membangunkan Izul Namun Izul tidak bangun-bangun juga. Radit pun sedikit tertawa. Tiba-tiba Pak Dane melihat ke arah semua siswa, dia menutup mulutnya dengan telunjuknya, menandakan untuk diam. Kelas 9 pun menjadi sunyi secara tiba-tiba. Pak Kepala Sekolah memasuki kelas 9, ternyata beliau menunggu diluar dari tadi Beliau mencoba membangunkan Izul, Izul sepertinya bangun namun matanya masih terpejam, seperti menolak untuk dibangunkan. Namun Izul bangun, dia membuka matanya dan dia kaget karena ada Pak Kepala Sekolah dihadapannya. Semua murid pun tertawa, Pak Dane juga. "Benar kan?" kata Pak Dane kepada Kepala Sekolah Kepala Sekolah menyahutnya dengan anggukan "Ada apa kau ini, gurumu sedang menjelaskan, malah tidur kau ini" kata Kepala Sekolah memarahi Izul "Penjelasan terlalu panjang, kurang jelas lagi, ditambah mataku ngantuk, tidur aja" kata Izul dengan santainya "Kalau penjelasannya kurang jelas, nanya dong!!. Jan...

Semakin - Season 3 - Episode 10 (Special Edition)

Episode 10 - Tercampur "Bagaimana rasanya hampir setahun cerita ini tayang, namun hanya 40 episode (total)" kataku "Tidak apa-apa, 40 episode pun syukur" kata Iwan "Tapi, mengapa kau menghentikan perjalanan ini" lanjut Iwan "Kamu mungkin sudah tahu, Wan. Cerita ini kurang diminati, padahal inilah cerita pertama yang kubuat." kataku "Mungkin salahmu juga, aku bisa melakukan hal yang tidak mungkin" kata Iwan "Ya, mungkin saja" kataku . . "Eh, ada Nafis" kata Ibu Iwan Aku pun menyalimi Ibu dan Ayahnya Iwan "Sejak kapan kau datang?" kata Ayah Iwan "Baru saja" kataku "Kok kalian kenal" kata Iwan "Lah, kan dia yang membuat cerita ini, masa gak kenal" kata Ibu Iwan "Kenal sih" kata Iwan Aku hanya tersenyum . . "Assalamu Alaikum" kata Azmi "Wa alaikum salam" kataku "Mana temanmu?" lanjutku "Dia sedang....." kata Azmi "Assalamu Alai...

Sahabat - Bagian 6

Bagian 6 "Sekolah ini sama sekali tidak mengajarkan yang namanya toleransi" Ucapan Guru Bahasa Inggris yang sangat mengejutkan semua siswa. Bahkan siswa yang tertidur langsung terbangun karena ucapan beliau Dane, Guru Bahasa Inggris yang baru, namun beliau tahu atas kejadian di SMP Pelita ini Ya, 'bule' yang sudah lama tinggal di Indonesia. Tentunya kewarganegaraan beliau Indonesia "Tidak ada kah yang belajar PKN?. Seharusnya di pelajaran PKN itu ada pelajaran tentang toleransi" kata Pak Dane Hafidh pun memberanikan diri untuk berdiri "Ya, ada apa Fidh?" kata Pak Dane "Gimana mau belajar?. Gurunya kurang serius dalam mengajar" kata Hafidh dengan suara lantang "Kurang serius?. Ya, saya sudah mengetahui hal itu Fidh. Biarlah kali ini saya serius" kata Pak Dane Beberapa menit kemudian "Waktu istirahat telah tiba" Suara bel istirahat Semua orang langsung berlarian keluar dari kelas Sementara Hafidh hanya berjalan santai di...