Langsung ke konten utama

Postingan

Sahabat - Bagian 2

Mereka berbicara sebentar sampai satu orang datang. "Hai Dit," sapa orang itu. "Hai Zul," jawab Radit. Hafidh pun menengok orang itu, kemudian bertanya kepada Radit, "Siapa dia?" "Dia Izul, teman sebangkuku dulu di SD." Izul pun mendekat kepada mereka, kemudian menjabat tangan Hafidh dan berkata, "Perkenalkan, namaku Izul." "Namaku Hafidh, senang berkenalan denganmu," sambut Hafidh dengan wajah tersenyum. "Kok masih sepi?" tanya Izul yang melepas jabatan tangan. "Entahlah, mungkin kita terlalu pagi datang kesini," jawab Radit. "Mungkin saja." kata Izul *** "Selamat pagi, anak-anak!" sapa kepala sekolah SMP Pelita di atas panggung kecil. Upacara sedang berlangsung dan sudah sampai pada acara pengumuman. "Seperti yang kita tahu, sekarang kita memasuki tahun ajaran baru. Tahun ini murid yang memasuki sekolah ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Jadi para kakak kelas, harap lebih ram...

Sahabat - Bagian 1

19 Juli 2012 - Hari ini adalah hari pertama sekolah. Pukul lima pagi, Hafidh sudah bangun. Setelah mandi, makan dan mempersiapkan diri, dia langsung saja pergi ke sekolah. Hafidh menyangka dia adalah orang yang paling cepat datang ke sekolah, ternyata tidak karena sudah ada satu orang disana. SMP Pelita, adalah sekolah pilihan Hafidh. Sekolah yang tidak begitu jauh dengan rumahnya. Dengan sepeda kesayangannya, dia pergi pagi-pagi. "Halo, apakah kamu akan sekolah disini?" tanya Hafidh kepada orang yang datang lebih awal tadi. "Tentu saja," jawab orang tersebut. "Boleh kenalan?" "Boleh! Namaku Radit, namamu siapa?" tanya seorang remaja bernama Radit itu. "Namaku Hafidh. Ngomong-ngomong rumahmu dimana?” "Rumahku tidak jauh kok, di tepi sungai itu." Hafidh mengangguk. "Bagaimana dengan rumahmu, Fidh?" "Itu, di dekat jalan disana," tunjuk Hafidh. "Kalau rumahmu juga dekat, bagaimana kalau kita saling mengun...

Aku Kembali!

Halo!  @mnafisalmukhdi1  disini. Bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja.  Ada kabar bagus nih untuk blog ini! Aku kembali! Ya, setelah sekian lama aku tidak memposting apapun sama sekali dalam blog ini, kembali menghidupkannya adalah pilihan terbaik. Rencana utama dari kembalinya aku adalah merevisi total semua cerita yang ada di blog ini. Dukung aku selalu. Salam.

Sahabat - Bagian Bonus

"Pak Dane, apakah anda lupa?. Dia sudah kelas 3 SMP, minggu depan UN" kata kepala sekolah "Astaghfirullah, iya ya. Baru ingat saya" kata pak Dane "Baiklah, kalau begitu, kami akan ikut" lanjut pak Dane "Ikut kemana?" kata Hafidh "Ke rumahmu, kemana lagi?" kata pak Dane "Aku ikut juga, sudah lama aku tidak mengunjungi rumahmu" kata Radit "Silahkan" kata Hafidh sambil tersenyum . Dikarenakan rumah Hafidh yang sebenarnya dekat, mereka (Hafidh, Radit, Kepala Sekolah, Pak Dane dan adiknya) hanya jalan kaki menuju rumah Hafidh, dan Radit yang mendorong kursi roda "Sudah kubilang Dit, aku bisa sendiri" kata Hafidh "Aku takut kursi rodanya jalan sendiri dan kamu tidak mampu menghentikannya" kata Radit "Baiklah" kata Hafidh . - Setibanya di rumah Hafidh - "Fidh, ini rumahmu?. Terakhir kali aku melihat rumahmu, rumahmu masih utuh. Kenapa sekarang agak hancur?" tanya Radit "Rumah ini...

Sahabat - Bagian 12 (Edisi Spesial)

"Sudah kubilang, aku tersandung" kata Hafidh "Sudah kubilang juga, kau jangan berbohong, Fidh" kata kepala sekolah "Apa maksud anda, pak kepala?" kata Radit "Mr. Dane, tell him that Hafidh was tackled" kata kepala sekolah "Anda tidak perlu menerjemahkan nya, pak Dane" kata Radit "Apa maksudmu?" kata pak Dane "Walau kami baru berteman 2 tahun setengah, tapi kami sudah berbagi banyak hal" "Termasuk Bahasa Inggris" "Aku paham, bahwa dia di-tackle" "Pertanyaanku hanya satu, oleh siapa?" tanya Radit "Siswa disana cukup banyak, aku tidak dapat mengingat semuanya" kata kepala sekolah Kepala Sekolah pun berdiri "Tunggu sebentar" kata pak Dane Pak Dane mengambil sesuatu di bagasi mobilnya . "Sebenarnya apa tujuanmu, Dah?" tanya Kepala Sekolah "Tujuanku adalah memusnahkannya sekaligus kau" kata Bu Idah sambil menodong pistol lagi "Tunggu juga sebentar...

Sahabat - Bagian 11

Izul pun (ceritanya) memeluk ibunya, dia seperti berbicara kepada ibunya sambil menujuk Hafidh. Radit pun menyadari sesuatu, kemudian dia berbisik kepada Hafidh. "Nyawamu sepertinya terancam lagi" bisik Radit "Apa maksudmu?" balas Hafidh "Mereka sepertinya merencanakan sesuatu yang buruk kepadamu" bisik Radit lagi sambil memandang Izul Tiba-tiba, di belakang mereka sudah ada Kepala Sekolah "Mengapa dia ada disini" kata Kepala Sekolah "Apa maksud bapak?" tanya Radit "Kami sudah lama bercerai bahkan kami sampai pisah rumah. Sudah lama Izul ikut bapak, tapi beberapa bulan ini, bapak merasa ada yang aneh, ternyata Izul lebih memihak ibunya yang jahat entah kenapa" kata Kepala Sekolah "Sudah kubilang kan Fidh?" tanya Radit Hafidh hanya mengangguk Kepala Sekolah pun mendekati mereka "Apa yang kau mau, Dah?" kata Kepala Sekolah "Ya, aku hanya membalaskan anakmu" kata Bu Idah (Ibu Izul) "Apa maksudmu...

Sahabat - Bagian 10

Tiba-tiba, Hafidh sadarkan diri. Radit pun kaget sampai terloncat mundur dan terbentur pintu "Aduh" kata Radit "Dimana aku...." tanya Hafidh "Kau sedang di UKS, Fidh" kata Bu Anna "Siapa yang membawaku kesini?" tanya Hafidh lagi "Temanmu, Ibu tidak tau namanya" jawab Bu Anna Hafidh pun bangun, dan melihat Radit di pintu sambil mengelus-ngelus punggungnya "Kau ini, mengagetkanku saja" kata Radit sambil cemberut "Hehe. Maaf. Tapi, terimakasih" kata Hafidh sambil tersenyum Radit pun langsung tersenyum Clak Bunyi tetes darah yang terkena keramik lantai UKS Hafidh pun menyentuh pipi kirinya dengan tangan kiri, dia melihat telapak tangannya penuh darah "Tunggu sebentar" kata Bu Anna Bu Anna membuka kotak P3K dan mengambil plester dan kapas. Bu Anna pun menyapukan kapas itu ke pipi kiri Hafidh, dan meletakkan plester di luka itu. "Terimakasih" kata Hafidh "Sama-sama" kata Bu Anna sambil terseny...