Langsung ke konten utama

Sahabat - Bagian 6

"Hari ini, kita akan belajar sedikit tentang tenses," ucap guru Bahasa Inggris.



"Baik pak," sahut para murid.



Tiba-tiba, terdengar suara "Pengumuman! Untuk semua guru diharapkan kembali ke kantor sebentar. Terima kasih."



"Karena pengumuman itu, saya pergi sebentar. Jangan ribut ya!" Guru Bahasa Inggris itu kemudian meninggalkan kelas untuk menuju kantor.



Setibanya di sana, "Ada apa?" tanya beliau.



"Keadaan ekonomi sekolah kita sedang tidak stabil. Beberapa dari kalian akan diganti."



Rapat berlangsung cukup lama dan terpilihlah guru Bahasa Inggris dan Indonesia. Kabar tersebut terdengar oleh setiap kelas.



"Hafidh, kamu sudah mendengar tentang penggantian guru Bahasa Indonesia?"



"Guru Bahasa Inggris juga ‘kan? Ya, aku mendengarnya."



Radit kemudian menanyakan pendapat Hafidh dan dia menjawab biasa saja.



"Jadi kamu tidak marah? Setelah Guru Bahasa Indonesia yang terdahulu itu pilih kasih terhadap anaknya yang cewek itu?" Radit memandang kepada gadis yang dimaksud. "Padahal kamu cerdas lho, tapi nilaimu gak dianggap."



Hafidh hanya tersenyum mendengar perkataan Radit. "Aku tidak marah. Kecerdasan tidak dipandang dari nilai," ucapnya.



Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 10

Sekarang, pria bertopeng itu berada di area peperangan. Dia membawa busur dan panah miliknya, mengambil di pohon yang puncaknya sudah terbakar akibat tersambar petir. Terompet ditiupkan, suaranya menggema. Peperangan dimulai dan dengan biadabnya para prajurit negara api menyerang lebih dahulu. Suara pedang beradu mericuhkan suasana. Pria bertopeng juga menarik pedang dari sabuknya dan mulai bertarung. Doúlos sedang berada di puncak benteng merasa khawatir karena melihat prajuritnya berguguran di tangan pria bertopeng itu. Dia membuka sebuah buku di tangannya. Sepertinya mengandung mantra yang sering digunakan mendiang Kalós. “Kaíne to!” Sebuah panah mengenai mahkota Kalós dan jatuh dari atas benteng. Fotía ternyata berada di sana dan berhasil menangkapnya kemudian berlari. Doúlos melepas perisai wajahnya untuk ke bawah, “Rupanya kamu!” Dia mencoba untuk memerintahkan pasukannya menyerang Fotía yang mencoba berlari....

Pria Bertopeng dari Surga - Bagian 9

“Kalahkan dia!” ucap Fotía. Pria itu hanya tersenyum. *** “Sudah kubilang, itu dia!” Seorang warga itu terus menunjuk. Mereka sedang beristirahat dalam peperangan dan akan berlanjut setelah terompet ditiup pasukan negara api. “Tuan, tolonglah kami!” Dia menghadang kuda putih itu. “Temukan dulu aku dengan raja di istana air.” “Beliau sudah meninggal tuan.” “Nampaknya aku terlalu lama perg–Bagaimana dengan ratu? Temukan aku dengannya.” Pria itu dituntun menuju istana kerajaan air. Warga yang bersamanya berniat untuk kembali ke area perang. “Siapa dirimu?” tanya Evdaimonía. Ergodótis masih ada di sana. “Anda tidak perlu tahu saya. Saya ingin bertemu dengan ahli tafsir dan anda tahu dimana beliau.” Evdaimonía dan pria itu turun ke bawah tanah istana. Ergodótis mengikuti mereka. “Kamu! Terima kasih telah datang, tuan. Bantulah kami.” “Siap...

Semakin - Season 2 - Episode 16

Kuis Jawaban : Kameramen Penjawab : - Episode 16 "Sambil membawa si remaja tadi, aku melihat dia membawa pisau ditangan kirinya, kemudian terlepas dan tiba-tiba dia tersadar." lanjut si gadis "Tunggu, pisau?. Apakah pisau itu sudah berdarah?" tanya si pria tua "Aku tidak bisa melihat kiri-kanan karena gelap, aku hanya bisa melihat ke depan. Karena rumahku lurus saja dari gang disana." kata si gadis "Mengapa memilih gang, padahal ada jalan, jalannya itu terang" kata teman si remaja "Sekali-kali" kata si gadis "Kok jadi begini masalahnya, ruwet bener" kata si ibu Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti. Si ayah terlihat keluar dari mobil itu dan memberi uang. "Assalamu Alaikum" kata si ayah sambil membuka pintu "Wa alaikum salam" kata mereka serentak sambil menengok kebelakang. "Ayo sini, duduk, masih ada jarak disofa" kata si ibu sambil memindahkan kepala si anak ke pangkuannya "Ah, tidur ter...